Mempunyai Ibu seperti Ibuku adalah suatu anugerah terbesar bagiku. Beliaulah pahlawanku. Beliaulah KARTINI-ku.
Ibu adalah orang yang paling bersemangat memajukan pendidikan anak-anaknya. Disaat sebagian orang tua di desaku masih berpikiran kolot –anak perempuan tak perlu mendapat pendidikan tinggi karena ujung-ujungnya ke dapur juga– Ibuku begitu bersemangat menguliahkanku. Walau harus bersusah payah. Walau harus menghabiskan banyak biaya.
“Batas SMA jadilah Ni[1]. Untuk apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi.” begitu Ibuku bercerita padaku tentang seorang Ibu yang keberatan menguliahkan anaknya.
Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sekarang tengah melanjutkan study S2-nya. Ibulah orang yang paling bersemangat mendukungnya kuliah sampai S2. Bahkan ia tak perduli pada komentar orang-orang dan berapa biaya yang harus ia keluarkan.
“Kok langsung S2? Harusnya cari kerja dulu.” Begitu kata teman Ibu saat di pasar. Ibu tak perduli pada ucapan mereka. Yang Ibu inginkan adalah ia bisa menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Dengan begitu ia merasa bahagia.
Ibu merasa amat berkewajiban menguliahkan kami tinggi-tinggi, karena dulu, ia tak mendapatkannya dari orang tuanya. Kakekku dari pihak Ibu mempunyai dua istri. Nenekku adalah istri kedua kakek. Ibu mempunyai saudara tiri dari istri pertama kakek. Saudara tiri Ibu itu bisa melanjutkan sekolahnya sampai S2 karena Nenek tiriku itu orang berada. Sekarang saudara tiri Ibu itu menjabat sebagai dosen tetap di IAIN Imam Bonjol, dan ia berhasil menyekolahkan semua anak-anaknya samapai S2.
Sementara Ibu, Ibu mengecap pendidikan hanya sebatas Madrasah Aliyah, beliau tak bisa melanjutkan kuliah karena Nenek tak punya banyak uang, kakek pun begitu. Mungkin karena alasan itulah Ibu merasa mempunyai kewajiban besar untuk menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Ibuku adalah seorang Ibu rumah tangga biasa, yang merangkap sebagai pedagang. Sementara Ayahku adalah seorang pedagang. Kami tinggal di ruko, rumah sekaligus toko. Dari toko yang menjual berbagai macam perlengkapan kamar tidur itulah Ibu dan Ayahku mendapat uang.
Ibu orang yang tegar dan penuh semangat. Karena hal itulah, aku tak pernah mengeluh menempuh jarak 60 km pulang pergi dengan sepeda motorku untuk kuliah. Aku harus bersyukur karena aku masih bisa kuliah, tidak seperti Ibu yang tidak bisa kuliah. Tidak semua orang bisa kuliah. Maka, terlalu manja rasanya mengeluhkan jauhnya jarak yang harus kutempuh dalam menimba ilmu. RA. Kartini, telah memperjuangkan hak wanita dalam memperoleh pendidikan, maka sebagai generasi muda aku berkewajiban melanjutkan perjuangannya. R.A Kartini, semangat dan perjuanganmu, akan kuingat selalu.
Rima tak pernah menyangka kalau jalan hidupnya harus seperti ini. Haruskah ia menjadi seorang istri kedua?
“Abang sebenarnya sudah punya istri atau belum?” tanya Rima sekali lagi pada Bujang.
Bujang hanya diam ketika memandang wajah Rima yang bertabur rasa penasaran. Perasaan was-was serta merta mengepung hati Bujang. Terang saja! Ia bingung harus menjawab apa? Haruskah ia jujur pada Rima kalau sebenarnya ia telah mempunyai istri? Ah, mana mungkin ia mengatakannya. Hal itu bisa membuat hubungannya dengan Rima akan rusak berantakan. Rima adalah cinta pertamanya waktu ia masih duduk di bangku SMA dulu. Dimana saat itu, ia tak punya keberanian menyatakan cintanya.
Melihat Rima yang masih melajang di usia 38 tahun, membuat Bujang merasa bahwa Rima benar-benar jodohnya. “Kalau saja, aku tak pindah ke Medan waktu itu. Kalau saja, aku percaya diri menyatakan cintaku saat di SMA dulu. Kalau saja, aku menemuinya 15 tahun yang lalu, tentu Rima tak harus melajang sampai sekarang.” Bujang membatin.
“Dik, Abang ingin jujur padamu. Tapi, kamu jangan marah ya?” Bujang menatap mata Rima dengan penuh cinta. Sementara Rima semakin dihantui perasaan was-was kalau-kalau dugaannya benar.
“Dik, waktu Abang tinggal di Medan dulu, Abang pernah menikahi seorang Janda,” wajah Rima meradang. Namun ia masih meredam-redam amarahnya. “Abang hanya kasihan padanya, karena ia begitu miskin. Abang sama sekali tak mempunyai rasa cinta padanya. Sejak SMA dulu, Abang hanya mencintaimu. Namun sayang, Abang tak berani bilang.”
Rima benar-benar shock mendengar kata-kata Bujang. Rima meletakkan telapak tangannya di dadanya untuk meredam kepedihan yang dengan tega menyayat hatinya. Ia amat kecewa pada Bujang, tapi ia juga sedih dengan keadaan yang menipanya sekarang.
“Jadi, hubungan kita bagaimana, Bang?” tanya Rima lirih. Sesak terasa di dada Rima. Ia seperti makan buah simalakama. Bagaimana tidak? Jika ia nekad menikah dengan Bujang, maka betapa jahatnya ia karena telah merebut suami orang. Perempuan macam apakah dirinya? Ucapnya membatin. Tapi, jika ia putuskan hubungannya dengan Bujang, maka harus kemana lagi ia mencari jodohnya? Usianya sudah menginjak umur 38 tahun. Ia tak bisa menunggu lagi.
“Ya … Allah … Aku harus bagaimana?” Rintih Rima dalam hati.
“Adik tenanglah. Abang akan berusaha bicara pada istri Abang. Semoga dia mengerti dengan keadaan Abang.”
***
Entah apa yang dikatakan Bujang kepada istrinya -yang tak bisa punya anak itu- sehingga istrinya mengizinkan Bujang menikahi Rima.
“Tak pernah kukira kalau aku harus menikah dengan laki-laki yang telah beristri.” Rima menahan pahit saat bersanding di pelaminan.
Semasa kecil, aku pernah mempunyai impian ingin menjadi seorang dokter, pianis, penyanyi dan pelukis. Seperti anak-anak kecil kebanyakan, aku tidak terlalu serius dengan impianku itu. Aku bermimpi ingin menjadi dokter, karena kebanyakan anak-anak kecil bercita-cita seperti itu. Sementara ingin menjadi pianis dan penyanyi, alasannya karena waktu kecil aku ngefans banget sama Sherina. Waktu itu aku ingin menjadi sepertinya. Anak berusia 10 tahun sudah pandai bernyanyi dan bermain piano, menurutku itu keren sekali. Tapi sayang, sampai sekarang impianku itu belum terwujud, karena aku tak punya piano dan tak pernah punya kesempatan memegang piano. Hhhmm … aku menyesal sekali. Kalau pun aku tidak menjadi seorang pianis, setidaknya aku bisa bermain piano. Mungkin suatu saat nanti, hal itu dapat terwujud. Sedangkan impian menjadi pelukis, alasannya karena aku suka dengan lukisan. Hingga sekarangpun sebenarnya aku masih ingin menjadi seorang pelukis. Tapi, aku bukanlah orang yang berbakat menggambar, pun aku belum pernah mencoba melukis di atas kanvas menggunakan cat air. Mungkin suatu saat kelak, aku akan mencobanya.
Dan sekarang, aku mempunyai impian baru, yaitu aku ingin menjadi seorang penulis. Ya, itu lah mimpiku yang selalu bergelayutan dalam hati dan pikiranku. Alasan yang mendasariku mempunyai impian menjadi penulis adalah karena aku ingin menjadi orang terkenal. Aku ingin karyaku di baca semua orang. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku bisa membuat buku. Sejak SD, aku memang sudah suka dengan puisi dan menulis diary. Waktu SD, aku juga pernah menulis sebuah surat untuk Sherina. Namun sayang, waktu itu suratku tak dibalas.
Aku sangat ingin membuat sebuah buku, ntah itu fiksi ataupun nonfiksi. Betapa menyenangkan membayangkan bukuku dipajang di toko buku. Batapa menyenangkannya membayangkan bukuku dibaca semua orang. Dan betapa menyenangkannya ketika semua orang tahu yang menulis buku yang spektakuler itu adalah aku. Aku selalu membayangkannya, setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik. Itulah mimpiku. Mimpi yang selalu hadir di setiap tidurku. Mimpi yang selalu menghantuiku dimanapun aku berada. Aku tidak bisa jika mimpi itu tidak terwujud. Aku harus mewujudkannya.
Sebagai usaha awal, aku mengikutsertakan diri dalam komunitas kepenulisan. Sekarang, aku tergabung dalam Forum Lingkar Pena Wilayah Jambi dan Writing Revolution. Yang ada di dalam kepalaku adalah aku ingin berkarya, aku ingin menulis, hingga suatu saat kelak, aku bisa melihat bukuku dipajang di toko buku. Dan untuk meraih itu, aku harus mengasah kemampuan menulisku. Dalam komunitas kepenulisan inilah langkah itu aku mulai.
Beberapa minggu tergabung dalam komunitas kepenulisan tersebut, aku memberanikan diri mengirimkan tulisanku ke media dan berbagai lomba. Alhamdulillah, ternyata cerpen yang pertama kali aku kirim, lolos dalam lomba dan naskahnya dibukukan. Tentu saja aku bahagia karena hal itu. Namun, seperti yang telah kita ketahui, bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Tidak ada perjuangan tanpa ujian. Setelah naskah pertamaku yang lolos dan dibukukan itu, tak lantas setiap aku mengirimkan naskah akan diterima. Setelah naskah pertamaku itu, aku mengalami berbagai macam penolakan dan kekalahan dalam arena lomba kepenulisan. Itu terjadi berkali-kali. Naskahku tak dilirik sama sekali. Dan itu membuat mentalku jatuh. Kepercayaan diriku runtuh. Aku merasa kapok mengirimkan karyaku ke media atau pun ikut event lomba, karena aku tak siap menerima kekalahan lagi.
Meski begitu, aku tak lantas berhenti menulis. Aku terus menulis karena aku mencintai pekerjaan itu. aku terus belajar menulis yang baik dan benar. Aku terus berusaha memperbaiki kekurangan tulisanku. Aku menghabiskan waktu dengan banyak membaca karya-karya penulis yang telah ternama. Aku pun membaca perjuangan mereka dalam menulis dan menghasilkan karya. Aku mendapatkan sesuatu dari sana. Bahwa tidak ada kesuksesan yang gratis. Harus ada kerja keras dan perjuangan total.
Maka, kepercayaan diriku pun kembali. Aku harus sabar meniti jalan yang telah kupilih. Semuanya butuh proses. Aku harus terus semangat dan berusaha lebih keras lagi. Aku kembali memberanikan diri mengirimkan karyaku ke event lomba dan ke media. Aku tidak perduli lagi, apakah akan diterima atau tidak. Yang penting aku telah berusaha dan telah mencoba. Dan aku yakin suatu hari kelak impianku itu pasti akan terwujud. Aku yakin itu.
Dila bukanlah seorang gadis feminim. Tingkahnya persis macam lelaki. Rambutnya dipotong bob pendek. Dan bergaya sangat cuek. Jika bukan karena Reno yang cute yang dua minggu lalu baru pindah ke sekolah ini, Dila tentu tidak akan pernah memenuhi permintaan Bu Wana untuk ikut fasion show pake baju kebaya untuk memeriahkan HARI KARTINI hari ini. Sejak bertemu Reno, Dila sudah kesemsem berat. Ia jadi sangat suka bercermin dan mulai mengurangi ketomboyannya.
***
Sejak dua minggu lalu, Dila sudah berlatih bagaimana berjalan di catewalk. Bersusah payah ia lakukan itu karena ia tak ingin terlihat malu-maluin di depan Reno. Padahal sebelumnya, jangankan belajar berjalan ala model catewalk, disuruh memakai anting pun ia tak mau.
Dila merasa tegang sekarang. Semua penonton dan tamu undangan terlihat sudah duduk dengan rapi.
“Eh, Dil, santai saja jangan tegang, oke? Kamu pasti bisa kok. Ayo semangat Dil, sekolah kita harus menang.”
Ow, hati Dila bergetar hebat bagai tersengat listrik tegangan tinggi. Bagaimana tidak, Reno begitu peduli padanya. Sesaat ia hilang kendali dan merasakan tubuhnya seperti melayang-layang di udara.
“Mmm … iya, makasih ya Ren.” Ucap Dila gugup.
“Eits, kamu masih gugup ya? Ayo donk Dila semangat! Jangan sampe jurinya nanti liat muka kamu tegang begitu. Rileks donk.” Reno kembali menyemangati Dila. Duh … senangnya hati Dila.
Dila tersenyum manis dan berusaha rileks.
“Nah … gitu donk.”
Fasion show itu pun berjalan lancar. Dila begitu anggun dalam balutan kebaya hijau mudanya. Tak terlihat sedikitpun sifat tomboynya. Wajar saja, jika ia mendapat juara dua dalam acara fasion show HARI KARTINI itu. Meski bukan juara satu, bagi Dila itu sudah lebih dari cukup. Memenangkan lomba itu, sama sekali tak terbayangkan olehnya. Dan lebih tak terbayang lagi, Reno memujinya dan mengungkapkan kebanggaannya pada Dila. Tentu saja Dila senang luar biasa.
Aku duduk termangu di tepi jendela. Memandang ke cahaya jingga yang memantul di permukaan air sungai Batanghari nan tenang di belakang rumahku. Dari ketinggian lantai dua rumahku, pemandangan indah itu terlihat lebih jelas. Aku termangu. Pandanganku jauh ke depan. Jiwaku menerawang ke sisa-sisa kenangan masa lalu. Masih terngiang jelas kata-kata itu, saat dia menyatakan cintanya padaku,
“Terima lah aku Syafira. Aku sungguh-sungguh mencintaimu.”
“Maaf Zul, aku tak bisa. Orang tuaku melarangku pacaran. Ayah bilang, dalam Islam tak ada yang namanya pacaran. Jika nanti aku sudah cukup umur dan ada laki-laki yang suka padaku. Ia harus langsung melamarku kepada Ayah.”
Zul lalu befikir sejenak dan kemudian berkata,
“Kalau begitu tunggulah aku Syafira! Empat tahun lagi aku akan datang melamarmu.” Katanya yakin.
Ah, masa lalu. Apakah waktu itu Zulfa sungguh-sungguh dengan ucapannya? Beberapa hari ini aku tak bisa tidur karena memikirkan hal itu. Apakah dia masih ingat janjinya empat tahun yang lalu itu? Ia terlihat lebih gagah sekarang. Tanpa sengaja kemarin aku bertemu dengannya di Perpustakaan Provinsi. Ia kaget melihatku dan terlihat jelas pada raut mukanya bahwa ia bahagia bisa bertemu denganku. Sejak dua tahun lalu aku kehilangan kontak dengannya,
“Syafira? Apa kabar?” tanyanya saat aku bertemu dengannya. “Senang bisa bertemu kau disini. Sudah dua tahun kita kehilangan kontak. Handphone-ku hilang dua tahun lalu. Nomor kontak-mu dan semua kontak teman-teman kita dulu pun lenyap.” Terangnya padaku.
“Alhamdulillah kabarku baik,” jawabku sambil tersenyum “kamu sendiri bagaimana? Oya, ada apa kamu ke Jambi?” tanyaku agak gugup. Aku sendiri tak tahu kenapa aku segugup itu.
“Alhamdulillah kabarku juga baik. Iya, aku ke sini ke rumah Bibi. Sudah lama sejak tamat Aliyah dulu aku tidak ke kota ini. Kebetulan Bibi dan keluarganya pergi, makanya aku ke perpustakaan ini. Bagaimana kabar orangtuamu??”
“Alhamdulillah orang tuaku baik.”
“Alhamdulillah, oya Syafira berapa nomor handphone-mu?”
Aku lalu memberikan nomor handphone-ku dan kemudian kami terjebak dalam perbincangan hangat tentang masa lalu. Masa lalu yang konyol namun tak terlupakan. Masa lalu yang indah untuk di kenang.
Zulfa telah banyak berubah. Sekarang, ia lebih santun dalam berbicara. Lebih berwibawa dan terlihat gagah. Tubuhnya yang dulu kurus tinggi sekarang telah berubah menjadi atletis. Bentuk mukanya pun terlihat lebih tampan. Aku yakin, wanita manapun yang memandangnya pasti bersedia dinikahinya. Ia pun sekarang lebih bisa menjaga pandangan, ia tak mau berlama-lama memandang wajahku ketika berbicara, ia hanya melihatku sekilas dan kemudian mengalihkan pandangan. Ia benar-benar telah banyak berubah. Dan entah kenapa aku merasakan getar-getar aneh pada jantungku saat bersamanya, padahal sebelumnya tak pernah kurasakan.
Tapi, aku tak tahu pasti, masih ingatkah dia tentang janji itu atau tidak? Atau jangan-jangan sekarang ia telah memiliki calon istri? Oh, aku tak ingin membayangkan hal itu, karena sekarang aku begitu mengharapkannya.
“Oya, kapan-kapan aku boleh ‘kan silaturahmi ke rumahmu?” tanyanya.
“Oh, tentu saja boleh. Orang tuaku pasti senang menerima kedatanganmu.” Jawabku penuh harap. Berharap kalau ia masih mengingat janjinya dan akan menepatinya.
Ia tersenyum. Dan aku pun tersenyum mengingat hal itu.
Mentari mulai turun pelan–pelan keperaduannya. Aku beranjak dari tempat duduk. Berdiri di tepi jendela memandang matahari yang perlahan-lahan seperti bersembunyi di balik pohon-pohon yang berjejer di seberang sungai. Langit menyemburatkan warna merah. Terlihat begitu memesona. Perahu dan pompong terlihat melintas di tengah sungai. Mungkin itu adalah perahu orang dusun seberang yang hendak pulang. Azan magrib serta merta berkumandang bersahut-sahutan.
***
Aku sedang asyik dengan laptop-ku. Berselancar di dunia maya mencari informasi tentang beasiswa S2. Baru mengetik satu huruf di beranda google, handphone-ku memekik. Ada sms. Nomornya tak ku kenal.
“Assalammu’alaikum. Benar ini nomor Syafira?”
“Benar, ini siapa ya?”
“Ini Zulfa. Syafira, aku ingin tanya sesuatu yang amat penting. Mmm…masih kah kau ingat janjiku empat tahun lalu?”
Jantungku mulai berdegup kencang. Bulir-bulir harapan mencuat seketika. Janji itu, ternyata ia masih mengingatnya.
“Janji? Janji yang mana ya?”
Ah, aku mengutuki diriku setelah ku kirim sms itu. Bagaimana mungkin aku bertanya seperti itu? Bagaimana kalau dia tersinggung dengan pertanyaanku? Bagaimana kalau ia berfikir kalau aku telah melupakan kenangan itu? Dan ia akhirnya mengurungkan niatnya untuk menepati janjinya empat tahun lalu? Ah, aku sungguh bodoh!
“Syafira, aku ingin melamarmu? Bukankah empat tahun yang lalu aku pernah memintamu menungguku? Dan sekarang aku datang Syafira?”
Aku tersentak. Rasa haru serta merta menjalar ke seluruh tubuhku. Seakan tak percaya, ia yang aku tunggu ternyata benar-benar menepati janjinya.
“Mmm … aku tak bisa menjawabnya sekarang. Datang lah pada orang tua-ku.” Tulisku.
“Baiklah. Tunggulah kedatanganku.”
Tak dapat kulukis rasa bahagiaku. Setelah pertemuan dengan Zulfa tempo hari dan sms-nya itu, membuat duniaku semakin terasa indah. Aku jadi begitu bersemangat dan menjadi begitu suka tersenyum.
***
Seminggu sudah berlalu setelah sms-nya itu. Namun, Zulfa belum juga datang ke rumah untuk melamarku. Aku sedikit risau. Mungkin karena tak sabar.
Mentari pagi di luar bersinar cerah. Dari jendela ruang tamu, aku lihat ada tukang pos berhenti di depan rumah. Aku keluar dan menghampiri tukang pos itu. Ada yang mengirim sepucuk surat padaku. Pengirimnya: Zulfa Raditya. Sekonyong-konyong aku didera rasa penasaran yang sangat. Apakah gerangan isi surat itu? Kenapa Zulfa mengirimkannya melalui surat? Kenapa tidak lewat telpon saja? Aku tak tahu. Perlahan-lahan ku buka dan ku baca isi surat itu.
Kepada Syafira Anggraina
Assalammu’alaikum Wr Wb.
Dengan deraian air mata ku tulis surat ini. Dan dengan seberkas doa yang selalu ku panjatkan pada Allah agar kita selalu dalam bimbingan dan limpahan kasih sayang-Nya. Syafira, aku tak tahu harus dari mana ku mulai menuliskan apa yang sedang ku rasa saat ini. Apapun kabar yang akan kau terima nanti dari surat ini, janganlah kau bersedih hati. Karena sesungguhnya yang paling bersedih dalam hal ini adalah aku.
Syafira,
Kau tentu tahu bahwa aku -tanpa harus kusebutkan lagi- benar-benar mencintaimu. Dan aku berniat akan melamarmu dalam waktu dekat. Karena dulu, kau lah yang mengajari aku bahwa di dalam Islam tidak diperbolehkan untuk pacaran. Kau bilang padaku bahwa jika aku benar-benar mencintaimu, kau mempersilahkan aku meminangmu kepada orang tuamu setelah kita berdua tamat kuliah. Sekarang aku sudah tamat kuliah Syafira, kau pun begitu. Perlu kau tahu, selama kuliah tak ada satu pun wanita yang menarik hatiku. Hanya kau Syafira yang ku ingat selalu. Aku ingin cepat-cepat wisuda karena ingin segera melamarmu. Perlu kau tahu itu Syafira.
Syafira, setelah kau mendengar kabar yang akan ku tulis ini, maka janganlah kau membenciku karena ungkapan isi hatiku tadi. Tolong jangan kau benci aku. Syafira, betapa aku sangat ingin menjadi pendampingmu, menjadi pemimpinmu dalam rumah tangga yang akan kita bina nanti jika memang itu dapat terjadi.
Syafira, siapakah yang dapat menolak keinginan seorang ibu? Bagiku ibuku adalah segalanya. Airmatanya adalah mata pedang bagiku yang siap menyayat dan melumatkan hatiku. Beliau lah harta yang paling berharga untukku setelah kepergian ayah. Aku tak dapat menolak pintanya. Dan ibu yang sangat kusayangi itu, ternyata telah menjodohkan aku dengan seorang wanita yang tak pernah ku kenal sejak aku kecil dulu. Ia mengatakan hal itu ketika aku mengutarakan niatku untuk melamarmu.
Maafkan aku Syafira, maafkan aku. Jangan kau kira aku bahagia dengan semua ini. Aku lah yang paling menderita dalam hal ini. Maafkan aku. Ku mohon maafkanlah aku. Semoga Allah selalu melindungi kita dalam kasih sayang-Nya. Amin.
Jambi, 12 November 2010
Orang yang tak mampu menolak keinginan ibunya.
Pilu. Sontak rasa pilu mengahantamku. Tubuhku serasa seperti tak bernyawa lagi. Aku gemetar. Berderai-derai airmataku membaca tiap baris kalimatnya. Janji beberapa tahun yang lalu seakan lenyap sudah. Mimpi indah yang kubangun sirna. Penantian hanya tinggal penantian.
Masih ku genggam surat dari Zulfa. Aku ingin marah, tapi pada siapa? Ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Aku kehilangan tenaga. Aku tahu, Zulfa pun tentu tak bisa berbuat apa-apa. Ibu adalah segalanya baginya. Tak mungkin ia mampu menolak keinginan ibu yang sangat dicintainya. Begitu pula dengan perjodohan itu. Tak ada yang dapat ia lakukan selain menerima. Dan aku semakin merana membayangkan hal itu. Tubuhku terasa kian tak berdaya. Kakiku seakan lumpuh. Tanpa ku sadari, tubuhku rebah. Kemudian dunia terasa gelap.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu, aku menjadi pemurung.
“Kamu itu kenapa Pik[1]? Akhir-akhir ini Ibu liat kok murung terus?” tanya ibu saat aku tak sengaja memecahkan gelas saat sedang mencuci piring.
“Ndak apa-apa Bu. Cuma tadi kepala Fira agak pusing.” Kilahku.
“Kenapa? Masih mikirin si Zulfa itu ya?”
Aku diam.
“Sudahlah Pik, mungkin memang jodoh kamu itu bukan dia. Sekarang, kamu harus fokus. Besok keluarga Nak Radit akan datang ke sini. Percayalah dengan jodoh pilihan ibu. Ibu tahu yang terbaik untukmu. Ibu tahu betul siapa ibunya Radit itu. Ia teman baik ibu waktu di Madrasah Aliyah dulu.
“Dah, kamu jangan sedih lagi.” Terang ibu.
***
Aku telah siap menyambut kedatangan keluarga laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Aku telah pasrah. Mungkin memang ini lah yang terbaik untukku.
Aku duduk di kursi ruang tamu dengan raut muka yang ku paksa-paksakan seceria mungkin.
Lima menit kemudian, pemuda itu akhirnya datang bersama ayah dan ibunya.
“Assalammualaikum.” Kata mereka hampir bersamaan.
Langsung ku arahkan mukaku pada asal suara di depan pintu masuk.
“Masyaallah! Zulfa?” Kataku setengah berteriak.
“Zulfa Raditya.” Lanjutku haru.
Sengeti, 18 Maret 2011
[1] Sebutan untuk anak perempuan. Asal katanya “Upik”